MELALUI PELATIHAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT PESISIR AKADEMIA FISIP DAN EKONOMI LAKUKAN PENGABDIAN
  • Fakultas Ekonomi
  • 23. 09. 2022
  • 0
  • 306

Potensi dan Tantangan Sosioekonomi Masyarakat Pesisir Desa Padang Seurahet Aceh Barat

Pesisir merupakan wilayah peralihan antara daratan dan lautan begitu menurut UU No 01/2014 tentang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang juga memiliki potensi yang belakangan ini cenderung digadang-gadangkan memiliki potensi bagi perekonomian daerah. Akan tetapi sumberdaya pesisir secara umum dapat dibagi dalam 3 kategori yakni; Ekonomi berupa ekonomi kreatif, perikanan, industri rumah tangga. Pada kategori lingkungan hidup wilayah pesisir sendiri, berupa jasa lingkungan, pariwisata, ekologi pariwisata dan Mangrov, padang lamun, renewable energy (energi baru terbarukan) dan biota lainnya yang terdapat di wilayah pesisir. Sementara Sosiobudaya dapat berupa budaya dan kelembagaan masyarakat yang terdapat di wilayah pesisir.

Aceh Barat merupakan salah satu dari 34 kabupaten/kota yang memiliki geografis berdekatan dengan laut, tentunya kabupaten ini memiliki wilayah yang dapat dikalsifikasikan ke dalam wilayah pesisir. Wilayah pesisir di kabupaten ini yang mendominasi sebagai produsen (supplai chain management) adalah wilayah 3P (Panggong, Padang Seurahet, dan Pasir).

Melihat potensi tersebut akademia Universitas Teuku Umar yang berkonsenterasi dalam bidang Agro and Marine Industry mengadakan Pengabdian Masyarakat yang mengusung topik “Kelembagaan dan Perekonomian Masyarakat Pesisir” yang dilaksanakan di Desa Padang Seurahet yang di isi oleh Akademia dari Fisipol dan Nurhaslita yang mengulas secara disiplin keilmuaannya bidang Kelembagaan Sosial Masyarakat dan akademia Fakultas Ekonomi Rollis Juliansyah yang mengulas dalam bidang Ekonomi Wilayah pada sub bidang Ekonomi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Desa yang masyarakat lokal sering dijadikan akronim dengan sebutan Panser tersebut memiliki Pang Laot (sebutan untuk ketua adat yang mengurusi bidang kelautan), dalam kelembagaan Pang Laot ini bertugas mengkoordinir para nelayan dalam melakukan penangkapan ikan, seperti mengatur prosesi acara adat, kesejahteraan dan ketentraman para nelayan hingga penyelesaian konflik terhadap sesama nelayan tangkap di wilayahnya bertugas. Lembaga Pang Laot ini memiliki peranan cukup penting, hingga tak bisa dipisahkan dengan keseharian nelayan. Bilamana hal ini pun, memiliki pengaruh terhadap BUMG (Badan Usaha Gampong) yang berproduksi sektor perikanan tangkap.

Kegiatan kolaborasi ini tim mencatat bahwa partisipasi masyarakat terhadap kelembagaan sangat penting, hingga hal ini berdampak besar dalam peningkatan kesejahteraan rumah tangga berpendapatan rendah (low income household). Selanjutnya qanun atau reusam sebagai bentuk local wisdom tak mesti ditinggalkan dalam mecapai equilibrium society di tengah-tengah masyarakat. (rollis.red)

Lainnya :