Dosen UTU Diskusi Tentang Aset Laboratorium Komunikasi Bersama ASPIKOM
  • UTU News
  • 20. 06. 2022
  • 0
  • 278

MEULABOH, UTU – Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU), berdiskusi tentang manajemen aset laboratorium ilmu komunikasi dalam webinar bersama Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) secara nasional. Webinar berlangsung  via zoom meeting, Jumat, 17 Juni 2022.

Diskusi yang bertopic, “Aplikasi Manajemen ASPIKOM dan “Soft Launching” Pondasi Aplikasi Manajemen Aset Laboratorium Ilmu Komunikasi” dibuka oleh Sekjen mewakili Ketua Umum ASPIKOM Pusat, Himawan. Kegiatan webinar terselenggara difasilitasi Bidang Laboratorium ASPIKOM. Webinar yang dipandu oleh moderator, Rahma itu tampil sebagai narasumber antara lain Albert Abeng (PP ASPIKOM) Pusat, dan Jamroji (UMM ASPIKOM).

Himawan antara lain mengatakan, laboratorium itu sebagai sebuah proses dalam memberikan pelayanan maksimal kepada mahasiswa. “Tantangan kita ke depan, bukan lagi sekedar posisi mahasiswa yang hanya mengetahui teori saja, tetapi kemampuan untuk menghadirkan aspek skill”. Untuk itu, manajemen asset ini menjadi hal yang sangat penting. Apakah kebutuhan peralatan yang ada di dalam laboratorium dari masing-masing prodi itu sudah sesuai dengan profil lulusan yang hendak dibangun.

Oleh karena, “saya yakin masing-masing program studi punya profil lulusan berdasarkan traser studi yang berbeda-beda,  tidak akan sama”. Karena masing-masing memiliki kekhasan. Oleh karena itu, aplikasi manajemen asset laboratorium itu dapat digunakan sebagai bagian untuk mengembangkan bahwa kekhasan itu juga bisa muncul di masing-masing laboratorium itu. Apakah fasilitas laboratorium itu sudah mendukung terhadap kurikulum, dan dapat digunakan secara efektif dan apakah mahasiswa bisa mengaksesnya.  

Salah seorang narasumber, Albert Abeng juga memaparkan terkait keunggulan digital platform. Secara analog, bekerja dengan dokumen kertas, perlu sejumlah SDM untuk mengerjakan administrasi dan pengelolaan, dokumen berpotensi tidak tersimpan dengan baik sehingga sulit memonitor, pergantian kepengurusan berpotensi mengganggu kinerja sistem dan layanan. Demikian halnya dengan platform terintegrasi. Satu platform dapat digunakan oleh pengelola dan pengguna laboratorium, dashboard mudah digunakan dan terintegrasi sehingga tidak perlu banyak SDM. Selain itu, pengembangan platform dapat dilakukan secara berkelanjutan, aset dan transaksi penggunaan dapat terdokumentasi dan mudah dimonitor, sistem bersifat tetap, pergantian kepengurusan tidak akan merubah sistem kerja. (***)

Lainnya :