Tri(k) Dharma Perguruan Tinggi
  • Prodi Sosiologi
  • 30. 07. 2020
  • 0
  • 1022

Oleh : Nurkhalis, M.Sosio*

Setiap calon mahasiswa turut diperkenalkan dengan ‘mantra’ Tri Dharma Perguruan Tinggi (kampus)—dimulai dari Orientasi Perkanalan Mahasiswa (Ospek) sampai kembali pada seremoni sebagai alumni—. Seolah mantra itu pun abadi. Lantas, seberapa penting dan bermanfaatkah ia?

Sebagai pengetahuan, perlu diketahui bahwa istilah Tri Dharma merujuk bahasa yang digunakan oleh etnis Tionghoa. Perintisnya bernama Kwee Tek Hoay, dikenal Bapak Triddharma Indonesia. Kata ini bermakna; Tri ialah tiga dan Dharma yakni ajaran (cara) kebenaran. Oleh karena itu, Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa diartikan tiga aktivas kebenaran simultan bagi insan kampus terdiri dari Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

Judul tulisan ini, sengaja memang digubah menjadi Tri(k) Dharma. Berupaya memberikan solusi atau alternatif tepat bagaimana sebenarnya menyukseskan Tri Dharma itu sendiri. Seringkali Tri Dharma diharapkan sebagai pedoman berbobot namun kadangkala realita di lapangan justru sebaliknya, menjadi penerima  bolot (kurang baik pendengarannya) dan kolot (terbelakang atau kuno) di masa depan.

Trik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti akal, muslihat (cara jitu), dan kiat menemukan jalan sukses di masa depan. Tri(k) Dharma bertujuan memberikan pilihan terbaik bagi Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyaakat. Jangan sampai mahasiswa(i) tiap tahun kelulusannya justru tercatat sebagai penyuplai atau penambah angka pengangguran. Idich…!

Tri(k) Dharma pertama Pendidikan. Diharapkan mahasiswa lebih cakapan berkomunikasi secara lisan dan tulisan selama berada di ruang perkuliahan. Bahkan akan lebih baik menambah cakapnya saat tergabung di lembaga internal/ eksternal kampus.Lisan dan tulisan mampu mengenalkan siapa sebenarnya mahasiswa(i) teladan, disiplin, hebat, keren dan semua penilaian terbaik sederajat lainnya.

Beberapa ilmuwan komunikasi menyampaikan bahwa, lisan sebagai bahasa emosional sedangkan tulisan sebagai bahasa intelektual. Maka sudah sepantasnya bahasa emosional serta intelektual dituangkan mahasiswa(i) melalui cakap lisan dan tulisannya. Bahkan dunia kerja mahasiswa(i) bercakap secara lisan dan tulisan menjadi persyaratan utama diterima dan lulusnya mereka bekerja. Nah Loh!

Selanjutnya, Tri(k) Dharma melalui Penelitian. Perlu diketahui bahwa penelitian bukanlah hal asing bagi kehidupan manusia termasuk mahasiswa(i). Penelitian secara umum dibagi kepada dua jenis; ada penelitian sehari-hari (Everyday Research)dan penelitian ilmiah (Scientific Research). Darinya, penelitian sehari-sehari padahal sering kita lakukan semisal penelitian sederhana tatkala membeli pakaian, kendaraan, handphone dan sebagainya. Selama masa perkuliahan mahasiswa(i) diperkenankan curi start tanpa harus menunggu tiba ketentuan penelitian ilmiah—lazimnya di semester tujuh atau delapan—.

Dengan memulai penelitian sederhana seperti mengikuti sayembara penelitian personal maupun akan menumbuhkan minat dan bakat penelitian. Terlebih lagi bisa memenangi sayembara, pada akhirnya anda akan dikenal semua orang dan juga dosen. Amin…!

Dan Tri(k) Dharma terakhir, Pengabdian. Dimana mahasiswa(i) selain sebagai makhluk tuhan (Hablumminallah) dan juga makhluk sosial (Hablumminannash) sudah barang tentu mengabadikan diri bermasyarakat dengan peduli dan peka kepada sesama. Sebagai makhluk sosial sebenarnya manusia bukanlah sebagai seorang penyempurna namun lebih kepada manusia pelengkap atau pengisi kebutuhan sehingga pada akhirnya kesempurnaan kebutuhan hidup bisa diperoleh. Ceileee…!

Sekian, Tri(k) Dharma Peguruan tinggi dari tawaran penulis. Untuk menjawab pertanyaan di pengantar tulisan ini akan dikembalikan kepada pembaca, penting dan bermanfaatkah ia? Yang jelas pesan terakhir penulis, Ingat, jangan tunda wisuda! Semoga.**

*Penulis adalah Ketua Jurusan Sosiologi FISIP UTU

Artikel ini sudah pernah tayang di Basajan.net

Komentar :

Lainnya :