Sosiologi UTU Gelar Workshop RPS, Bahas Pembelajaran Berbasis Case Study
  • UTU News
  • 10. 06. 2021
  • 0
  • 448

MEULABOH - UTU | Pendidikan di perguruan tinggi harus bisa membuka peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya, mengaktualisasikan dirinya, dan ini menjadi tantangan terbesar bagi para dosen. Mahasiswa harus difasilitasi agar bisa menghasilkan suatu capaian prestasi yang unggul,  jangan sampai potensi tetap menjadi potensi. Sebagai tenaga pendidik, dosen harus selalu melakukan rekonstruksi pembelajaran menyesuaikan dengan perkembangan kurikulum.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. M. Hasan, M.Si, Pakar metode Pembalajaran dan Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi dari Universitas Syiah Kuala (USK), mengawali presentasinya dalam Worskhop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Case Study yang digelar Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UTU, Kamis 10 Juni 2021. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari (10-11 Juni 2021).

Dikatakannya, paradigma pembelajaran saat ini sudah bergeser. Dalam proses pembelajaran, yang belajar bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosennya dan satu hal yang harus kita perhatikan  adalah sumber belajar. Dosen secara berkala harus meng-update RPS, setiap semester ditinjau lagi. Harus disesuaikan jika ada bahan kajian baru atau referensi baru atau hasil riset-riset terbaru.

“Dosen sebagai pembelajar sejati, menyiapkan rencana pembelajaran, membaca banyak referensi dan hasil-hasil riset dan dimasukkan dalam RPS. Dengan ini kita bisa lebih yakin bahwa hasil dari pembelajaran itu lebih baik” jelasnya.

Lanjutnya, pengembangan kurikulum adalah hak perguruan tinggi yang dijamin UU Pendidikan Tinggi tahun 2012 dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Kurikulum adalah strategi yang terpogram untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan (capaian pembelajaran) seperti lulusan yang berintelektual, berakhlak mulia, dan memiliki ketrampilan yang ditetapkan.

Selanjutnya disampaikan, metode pembelajaran yang harus diterapkan saat ini mengacu pada Indikator Kinerja Utama (IKU) ke 7, kelas yang kolaboratif dan partisipatif persentase matakuliah S1 dan dipoma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case study) atau pembelajaran kelompok berbasis project (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi.

Case Study merupakan pembelajaran partisipatif berbasis diskusi untuk memecahkan kasus atau masalah. Penerapan metode ini akan mengasah dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis untuk memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan kreativitas.

“Di dalam menerapkan case study, mahasiswa jangan hanya  diberikan tugas secara individual namun dikerjakan secara berkelompok. Hal ini dikarenakan permasalahan kehidupan riil menuntut pemecahan masalah secara bersama-sama dengan  menggunakan perspektif yang berbeda-beda dan dengan berbagai strategi yang bisa diusulkan anggota kelompok” paparnya.

Studi kasus ini termasuk jenis pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) atau model pemecahan masalah. Mahasiswa memiliki peran utama dalam pemecahan masalah, sedangkan dosen berperan sebagai  fasilitator yang bertugas mengobservasi, memberi pertanyaan, dan mengarahkan diskusi.

Case Study memiliki kelebihan yakni pelibatan mahasiswa secara aktif mengembangkan keterampilan berpikir yang sangat tinggi. Selain itu, pengetahuan akan tertanam berdasarkan skema yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mahasiswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan metode ini, mahasiswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi dan menerima pendapat dari orang lain, dan menanamkan sikap sosial yang positif antarmahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut Dekan FISIP UTU, Basri, SH., MH menyampaikan hal-hal penting terkait penyusunan RPS Pembelajaran Case Study. Antara lain memerhatikan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi, sehingga pembelajaran yang didesain sesuai dengan capaian pembelajaran dan menjawab kebutuhan dunia industri, antara lain dengan memerhatikan Standar Kompetensi Kerja Nasional untuk kompetensi program studi tersebut. (Aduwina Pakeh / Humas UTU)

Komentar :

Lainnya :