Prof. Warul: UTU Perlu Menerapkan Interkoneksitas Keilmuan
  • UTU News
  • 12. 09. 2018
  • 0
  • 242

MEULABOH – “Saya ingin menitipkan kepada Pimpinan Universitas Teuku Umar (UTU) agar melakukan upaya-upaya interkoneksitas keilmuan untuk diterapkan dalam kurikulum dan silabus pembelajaran setiap fakultas dalam lingkup UTU”. Rektor Universitas Negeri Islam (UIN) Ar-Raniry-Banda Aceh, Prof. Dr. H. Warul Walidi AK, MA, mengingatkan hal itu ketika bincang-bincang dengan Tim UTU News, di ruang kerja-nya di Banda Aceh.

Menurut Prof. Warul, bagi lembaga pendidikan umum, Universitas Teuku Umar sangatlah penting menerapkan  upaya-upaya interkoneksitas keilmuan baik yang bersifat keislaman maupun kearifan lokal, sains modern dan nilai-nilai kebangsaan dalam kurikulum. Oleh karena itu, “proses pendidikan di Aceh  sampai ke jenjang perguruan tinggi kita berharap dapat mengedepankan 4 azas utama dalam proses belajar mengajar yaitu keislaman, keacehan, keindonesiaan dan ke-universalan”, ujar Prof. Warul mengharapkan.

Prof. Warul menguraikan, keislaman adalah sebuah tatanan nilai yang telah berurat berakar di Aceh yang hars  diintegrasikan dengan berbagai bidang studi yang ada. Keacehan juga begitu, bagaimana nuansa kearifan lokal itu bisa masuk dalam kurikulum dan dalam silabus  dalam pengembagan metodologi pembelajaran yang ada di UTU. Demikian juga nilai2 kebangsaan yang sangat menginginkan tatanan nilai kearifah lokal dan juga tatanan nilai keilmiahan dipadukan dengan wawasan kebangsaan, sehingga bisa melahirkan budaya akademik yang jauh dari in-toleransi dan dari radikalisme. Demikian hanya dengan keuniversalan, bahwa pendidikan tidak boleh lepas dari dunia internasional artinya kita sekarang sudah berada pada revolusi 4.0, dimana digitalisasi semua sektor kehidupan telah membuat manusia tidak boleh lepas dari perkembangan tekonologi industry terutama berkaitan dengan komunikasi dan informatika.

Kedepan, kata Prof. Warul, perlu transnasionalisasi pendidikan. Pendidikan lingkup Asean akan masuk ke wilayah kita, kalau kita tidak kokoh dan tidak siap, kita akan  kalah dalam persaingan global. Sekarang Kemenristekdikti telah memberi ruang untuk itu, maka kita harus siap mensikapinya. Untuk itu dalam rangka internasionalisasi universitas, kita harus siapkan produktifitas ilmiah secara baik, artinya harus makin banyak karya dosen dan mahasiswa yang kita publikasi, melalui karya hasil penelitian, hasil pengabdian, karya buku, karya jurnal ilmiah nasional dan internasional.

Selain itu, yang paling penting adalah membuat jejaring ilmiah supaya  tersambung dengan titik riset internasional, bisa kerjasama dengan Malaysia, misalnya. “Ini akan terjadi pertukaran (colaborasi) sangat bagus dalam rangka transnasionalisasi dan internasionalisasi universitas”, sebut Prof. Warul, yang juga pernah terlibat dalam memberikan atensi yang tinggi untuk penegerian UTU.   

Prof. Warul mengatakan,  dalam rangka mengantisipasi perkembangan dunia, Universitas Teuku Umar (UTU) harus mampu menciptakan lulusan yang menjadi subjek unggul dan kerjasama internasional. Selain itu, perlu diupayakan UTU adalah terjadinya internalisasi universitas, dengan  menyiapkan perangkat-perangkat besar yaitu sumber daya manusia, memilki kapasitas dan kompetensi rata-rata yang bisa disejajarkan dengan kapasitas dan sumber daya internasional, lalu kemudian dikemas kurikulum yang berwawasan internasionalisasi, sehingga orang- orang luar negeri seperti Brunai Darussalam, Thailand, Singapure akan datang dan belajar ke UTU apabila kemasan keilmuan tersebut dapat dikemas dalam format internasional dengan tidak melupakan keislaman, kearifan lokal dan nilai-nilai kebangsaan. “Prediksi saya, kalau ini berhasil  kita diterapkan, bahkan orang-orang India, China akan belajar di UTU”, ujar Prof. Warul yang juga mantan Ketua MPD Aceh.

Untuk itu,  UTU perlu segera dipikirkan beberapa bidang keilmuan lain seperti yang berkaitan dengan kemaritiman,  dengan kehutanan, perkebunan, peternakan, dengan  teknologi agro bisnis dan lain sebagainya. “Ini peluang bagi UTU yang sangat luar biasa untuk dikembangkan karena UTU dengan  lingkungannya memiliki potensi alam yang luar biasa sehingga  putra-putri  kita bisa mengambil mata kuliah pada program studi yang berkaitan dengan potensi alam-nya”, begitu Prof. Warul menyarankan.

“Saya melihat  UTU ini berada di Barat Selatan Aceh (Barsela). Barsela itu disamping memiliki Sumber Daya Alam (SDA) juga memiliki Sumber Daya Manusia yang luar biasa pula, dibandingkan mungkin dengan beberapa daerah tetangganya di Sumatra Utara. Dengan negerinya UTU dan kemajuannya akan memberikan masa cerah bagi masyarakat luas untuk masa depan”.

Dalam kesempatan itu, Prof. Warul lebih jauh menyebutkan, di Aceh ini punya 13 bahasa. Ke 13 bahasa ini harus dihidupkan kembali. Kembagkanlah bahasa tersebut, jangan hanya bahasa Aceh saja. Bahasa Aceh itu bahasa pantai. Selain bahasa Aceh ada bahasa kluet, bahasa simeulue, bahasa gayo, bahasa jamee, bahasa alas, bahasa phak-phak dan lain-lain.  Untuk  itu, UTU juga harus mengambil peran menghidupkan kembali bahasa-bahasa tersebut. “Saya khawatir kalau bahasa ini tidak digali dan tidak berupaya meng hidupkan kembali,  bahasa ini akan hilang nantinya”, tambah Prof. Warul.

Prof. Warul juga menceritakan sedikit terkait dengan perhatiannya terhadap UTU. Sejak lahir hingga UTU Negeri, saya secara pribadi dan kelembagaan MPD Aceh waktu itu, ikut memberikan atensi yang tinggi untuk penegerian UTU . Terbukti kami juga pernah bahas dengan Bapak Joko Santoso, yang ketika itu Joko Santoso masih menjabat Dirjen Dikti Kemendikbud, sebelum terbentuk Kemenristekdikti. Selain itu, Prof. Warul juga telah melakukan koordinasi dengan Men PAN-RB semasa dijabat oleh Azwar Abubakar. (Saat itu kami juga sedang berusaha untuk berdirinya Kopertis Wilayah 13. Kopertis 13, saya sendiri yang tulis naskah akedemiknya sejak 2006, Alhamdulillah terbentuklah Kopertis wilayah 13). pada saat itulah kami juga memberi rekomendasi dan dukungan yang luar biasa untuk penegerian UTU. Dan UTU dilihat dari segi namanya luar biasa, nama pahlawan yang sudah dikenal dunia Teuku Umar Johan Pahlawan. Teuku Umar salah seorang pahlawan yang sangat taktis dan strategik dalam melakukan upaya perlawanan terhadap kolonial Balanda. “Nama Teuku Umar sangat tepat dinisbatkan pada Universitas Teuku Umar (UTU). Bahkan di UTU sekarang sudah ada nama Mata Kuliah Teuku Umar, dan ini sangat penting utuk ditelusuri kehidupan Teuku Umar yang begitu fenomenal dan begitu strategic dalam mewariskan nilai-nilai kepahlawanan pada generasi  muda kita. “Jadi, UTU menisbatkan diri pada Teuku Umar sebagai nama besar. Insya Allah, saya yakin UTU ke depan akan semakin besar. (Muzakkir)

Lainnya :