Prof. Jamaluddin: Prodi UTU
  • UTU News
  • 19. 07. 2019
  • 0
  • 288

“Yang harus dipikirkan oleh Pimpinan Universitas Teuku Umar (UTU) adalah peningkatakan mutu. UTU perlu menciptakan akuntabilitas, juga harus memperkuat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Langkah teknisnya,  semua Program Studi (Prodi)  di semua fakultas minimal harus B”, saran Prof. Jamaluddin

            Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry-Banda Aceh, Prof. Dr. Jamaluddin Idris, M. Ed menyampaikan sarannya itu, ketika bincang-bincang dengan Tim UTU News, belum lama ini di ruang kerjanya, di Darussalam-Banda Aceh. Ke depan, Rektor UTU harus memastikan semua prodi terakreditasi A, dan mulai sekarang perlu persiapan.

            Wilayah Barat Selatan Aceh itu, potensinya luar biasa banyak, bagaimana UTU merespon ini?. Seperti di Simeulue, UTU perlu melahirkan program studi yang vokasinya bisa dekat dengan industry. Industri pertanian, perikanan, dan kelautan. Untuk itu, UTU harus memperkuat prodi-prodi yang membumi dengan potensi daerah, ujar Prof. Jamaluddin, Koordinator Kopertis  Wilayah XIII Aceh (2013-2017)

            UTU saat ini bisa mengusulkan prodi baru yang  dianggap membumi di daerah tertentu.  Pengalaman saya ketika saya masih memimpin kopertis itu, teman-teman di Universitas Gajah Putih, Takengon, melahirkan prodi baru yang tidak  ada di Indonesia, yaitu Prodi Manajemen pengelolaan kopi, sesuai dengan potensi daerah. ”Karena prodi sudah ada, sekarang mereka sedang melampirkan untuk mengusulkan supaya prodi tersebut dapat disetujui. Itu sesuai dengan amanat Presiden, perguruan tinggi harus mampu menciptakan prodi yang dekat dengan pasar”, ujar Prof. Jamaluddin.

            Sekarang ini sudah ada keinginan dari pemerimtah kita untuk membangun central ekonomi daerah, artinya membangun central ekonomi pinggiran. Di Jawa misalnya coklat, di Takengaon kopi, di Barat Selatan itu ternak.  Ketika Menteri Mohamad Nasir bicara dimana-mana, ‘China hampir satu miliar penduduknya, tetapi perguruan tinggi  cuma 2 ribu. Sementara Negara kita yang penduduknya sekitar 270 juta, perguruan tinggi sudah mencapai 4 ribu lebih. Perguruan tinggi kita lebih banyak menciptakan sarjana akademik. Sarjana akademik lebih ke pemikiran. Pemikran tidak cukup sekarang ini tetapi kerja sekarang, artinya vokasi yang paling penting.  UTU gampang sebenarnya, Menteri Susi itu sangat perhatian ke Simeulue dengan budidaya lobster, kenapa  UTU belum ada prodi khusus tentang budidaya perikanan. (***)

 

 

Lainnya :