Praktik Literasi Dan Multimodalitas Bagi Dosen UTU
  • UPT_TIK
  • 23. 02. 2021
  • 0
  • 192

MEULABOH, UTU – Bincang literasi baru tahap ke 3 kembali dilanjutkan bersama narasumber level nasional. Kegiatan yang berlangsung melalui zoom meeting selain diikuti sivitas akademika UTU, juga diikuti oleh para dosen perguruan tinggi secara nasional.

Bincang literasi tahap ke 3 diberi tema, “Kajian Literasi Baru:  Praktik Literasi, Teks dan Multimodalitas,  “bagaimana teks membantu siswa mengenali diri dan lingkungannya dan  bagaimana teks meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan reflektif”.

Acara dipandu oleh Tati D Wardi, Ph,D (UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta). Narasumber adalah Firman Parlindungan, Ph.D (Ketua Pusat Pengembangan Kurikulum dan Bahasa Universitas Teuku Umar), Nithya Sivashankar, Ph.D (dari Texas State University-San Marcos), dan Afida Safriani, Ph.D (UIN Sunan Ampel-Surabaya).

Dari berbagai pertanyaan peserta muncul dalam bincang literasi, antara lain ‘bagaimana menggunakan teks sastra di dalam kelas’.  Sofie Dewayani  memberikan penjelasan, ada doorprize 3 buku menghidupkan literasi meskipun fokus paparan pada komunitas pengungsi, tetapi relevan intuk framework diskusi menggunakan teks sastra secara umum.

Selain itu, kata Sofie Dewayani, UNHCR mencatat angka pengungsi yang trendy meningkat dari tahun ke tahun. Tentunya, pengertian pengungsi ini berlaku umum, disebabkan oleh banyak hal, dari kemiskinan hingga perang. Meskipun fokus paparan pada komunitas pengungsi, tetapi relevan intuk framework diskusi menggunakan teks sastra secara umum.

Beberapa hal penting yang dapat dirangkum dalam perbincangan kajian literasi baru antara lain, literasi sebagai praktik sosial, metode penelitian dalam ranah literasi seperti studi lapangan yang dapat dilakukan melalui wawancara dengan pengelola dan pelanggan perpustakaan koper, pengamatan partisipatif, analisis teks tentang praktik perpusatkaan koper.

Sebelumnya, kajian literasi baru kali ini membahas mengenai gemar membaca terampil menulis: transformasi generasi komunitas literasi. Terdapat dua faktor yang memungkinan transformasi  yaitu dari sisi internal dan dari sisi eksternal. Dari sisi internal, komunitas telah menjadi ‘rumah belajar’ untuk mensosialisasikan habitus literasi: gemar membaca dan terampil dalam menulis. Sedangkan dari sisi eksternal, terjadi perkembangan, (1). Media online memberi kesempatan lebih luas kepada penulis pemula, (2). Dunia penerbitan lebih mudah dan murah untuk menerbitkan buku-buku.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Firman Parlindungan sebelumnya, membumikan literasi perlu dimaknai bahwa literasi tidak hanya membicarakan persoalan membaca dan menulis saja, tetapi juga melibatkan komunikasi sehari-hari. Literasi menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pendidik saja, karena literasi berkaitan erat dengan peradaban bangsa.

“Kajian literasi baru merupakan lensa pemikiran yang menempatkan literasi tidak hanya sebagai kecakapan teknis, tetapi literasi juga perlu dilihat dari segi praktik sosialnya,  seperti penggunaan teknologi, budaya membaca dan menulis serta komunikasi dialogis dalam kehidupan sehari-hari”, ujar Firman. (***)

Lainnya :