Mahasiswa FISIP UTU ‘Praktik Jurnalistik’ Pada Harian Serambi Indonesia
  • UPT_TIK
  • 09. 03. 2021
  • 0
  • 724

MEULABOH, UTU – Sejumlah mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU) melakukan pendalaman materi dalam mata kuliah praktik jurnalistik bersama pakar jurnalistik Kakanda Yarmen Dinamika (Wartawan/Redaktur Eksekutif Harian Serambi Indonesia), Minggu, 7 Maret 2021.

Pendalaman materi/kuliah lapangan bagi mahasiswa semester genap Prodi Ilmu Komunikasi FISIP tersebut dilakukan di Kafee Oen Kopi, Lampineung-Banda Aceh. Sebelum menyampaikan pendalaman materi  praktik jurnalistik, mahasiswa tersebut juga diberi kesempatan untuk mengunjungi ‘dapur’ Redaksi Harian Serambi Indonesia, dan diperkenalkan system pengelolaan media yang terintegrasi dalam Newsroom dan system percetakan pers Harian Serambi Indonesia oleh Kanda Yarmen.

Kuliah Lapangan yang diberi tema, “Membentuk Generasi Muda Yang Kritis dan Inovatif Serta Peka Terhadap Perkembangan Teknologi Informasi” bersama Kanda Yarmen juga dihadiri sekaligus menyampaikan materi kepada mahasiswa tentang metode dan trik menulis oleh Prof. Dr. Fadjri Alihar, Peneliti LIPI. Prof. Fadjri Alihar yang juga sahabat Kanda Yarmen Dinamika adalah putra kelahiran Kabupaten Aceh Selatan.

Penyampaian pendalaman materi perkembangan jurnalistik di era teknologi informasi saat ini oleh Kanda Yarmen diikuti penuh antusias dan dilanjutkan dengan diskusi/tanya jawab mahasiswa dengan kedua pemateri, Kanda Yarmen dan Prof. Fadjri Alihar.

Kanda Yarmen antara lain menyampaikan, kalau mahasiswa ilmu komunikasi mau berkembang maju, ketrampilan harus ditingkatkan, tidak hanya mampu membuat berita tetapi harus bisa menjadi pelapor atau reporter, harus bisa menjadi fotografer, dan harus bisa sebagai editor untuk naskah cetak maupun naskah video.  “Silakan ukur masing-masing Anda, setelah tamat kuliah, apakah memenuhi kualifikasi seperti yang saya sebutkan tadi”, ujar Kanda Yarmen.

Kanda Yarmen menceritakan, dulu semasa dirinya masuk menjadi wartawan di Harian Serambi Indonesia, tidak penting bahasa asing, tetapi sekarang wajib. Sekarang untuk bekerja pada  Harian Serambi Indonesia dipersyaratkan menguasai dua bahasa asing (bahasa inggris salah satunya atau bahasa cina atau bahasa jepang, bahasa mandarin sekarang sangat dibutuhkan) atau  bahasa arab.  “Kalau Anda tidak bisa memenuhi syarat seperti itu, jangan pikir bisa menjadi wartawan Kompas, jangan pikir bisa menjadi wartawan Tempo, untuk Harian Serambi Indonesia saja belum tentu diterima, walaupun Harian Serambi Indonedia itu media lokal”, ungkap Kanda Yarmen memotivasi mahasiswa.

Oleh karena itu, dalam dunia modern, menurut Kanda Yarmen, praktik jurnalisme itu semakin menantang, makin hari makin tinggi kualifikasi yang dibutuhkan. Untuk itu, adik-adik mahasiswa ilmu komunikasi perlu membekali diri untuk menambah pengetahuan ekstra dari sekedar yang diajarkan dari kampus.

Dunia pers sekarang makin berkembang. Kanda Yarmen mengutip ungkapan Alvin Tofler, seorang penulis dan fotorolog dari Amerikan Serikat, menyatakan, “orang-orang yang mengalami buta huruf pada abad 21 adalah orang-orang tidak sempat atau tidak mau belajar padahal kesempatan dan peluang ada, tidak mau mengulang kaji. Karenanya, semua teori jurnalistik yang telah diajarkan, hari ini kita duduk kembali mereview-nya apakah sudah sesuai atau tidak dengan kebutuhan praktis di dunia kerja jurnalistik. Jangan berteori saja, tiap tahun melamar kerja tetapi tidak diterima karena tidak ada relevansi antara dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja.”  

“Yang kita lakukan hari ini adalah mencegah supaya kita tidak menjadi orang dianggap butuh huruf pada abad 21 ini. Sekarang anak-anak umur 7 tahun, sudah lebih pinter. Bahkan, anak saya sendiri, kata Kanda Yarmen, pernah menjadi juara internasional empat kali untuk matematika. Soal matematika itu, diajukan dalam bahasa inggris. Itu menandakan bahwa anak berumur 7 tahun saja di Banda Aceh harus menguasai bahasa inggris”, begitu antara lain Kanda Yarmen menyampaikan pendalaman materi praktik jurnalistik sekitar 3 jam lebih, berawal dari kunjungan ke ‘dapur’ Redaksi Harian Serambi Indonesia.(***)

Lainnya :