FPIK UTU Programkan Pesisir Peunaga Rayeuk Sebagai Kawasan Penghijauan Mangrove
  • UTU News
  • 01. 12. 2019
  • 0
  • 161

MEULABOH, UTU - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar merencanakan penghijauan kawasan pesisir peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat melalui penanaman Mangrove.

Sebagaimana diketahui kawasan pesisir peunaga adalah salah satu pesisir pantai yang rusak berat akibat hantaman gelombang Tsunami 2004 lalu dan berdampak pada ekosistem yang ada di kawasan tersebut, sehingga tumbuhan yang hidup dipesisir pantai saat ini tidak tertata rapi. Untuk itu diperlukan usaha-usaha pembinaan dan pengelolaan kawasan pesisir pantai yang baik dan kontinue, salah satu usaha tersebut adalah penanaman bibit mangrove.

Dekan FPIK UTU, Prof. Dr. M. Ali Sarong, M.Si kepada media UTU.News mengatakan bahwa program ini selain untuk menjaga pesisir pantai dari gerusan ombak, juga sebagai tempat melakukan kegiatan praktek lapangan dan kegiatan penelitian bagi dosen dan mahasiswa FPIK.

"Kita memiliki empat program studi yaitu Prodi Perikanan, Akuakultur, Sumberdaya Akuatik, dan Prodi Ilmu Kelautan. Kesemua prodi itu memerlukan kawasan praktek lapang, kawasan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Alhamdulillah kita telah mendapatkan tanah hibah pakai (hak menggunakan) milik seorang warga gampong Peunaga Rayeuk". Kata Prof. Ali Sarong

Lanjutnya, tanah tersebut nantinya akan dijadikan kawasan mangrove. Pemanfaatannya bisa untuk praktek lapang matakuliah, tempat penelitian skripsi, dan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa dan dosen FPIK UTU.

Penanggungjawab lapangan / ketua pelaksana, Ir. T. Amarullah, M. Pi menjelaskan saat ini kawasan pesisir pantai Gampong Peunaga Rayeuk, miskin dengan tumbuhan mangrove. Supaya kawasan ini menjadi kawasan yang stabil dan beragam, maka perlu dilakukan upaya penghijauan dengan tumbuhan baru melalui pengadaan bibit mangrove.

"Kita telah mendapatkan bantuan 10.000 bibit mangrove dari Lembaga Pengadaan Bibit Mangrove Aceh Jaya. Bibit mangrove yang siap untuk ditanam ini, telah dilakukan pengambilan dari Lembaga tersebut pada Kamis 29 November 2019 lalu". Kata Ir. Amarullah

Lebih lanjut Ir. Amarullah mengatakan kegiatan pengambilan dan pengadaptasian mangrove melibatkan mahasiswa dan dosen FPIK UTU.

"Saat ini bibit mangrove tersebut telah dilakukan adaptasi, di kawasan ekosistem mangrove Gampong Peunaga Rayeuk. Rencananya bibit mangrove berjenis Rhizophora sp. ini akan ditanam pada minggu pertama Desember 2019 ini. Pungkasnya

Sebagai pengetahuan, mangrove merupakan ekosistem hutan daerah pantai yang terdiri dari kelompok pepohonan yang bisa hidup dalam lingkungan berkadar garam tinggi. Salah satu ciri tanaman mangrove memiliki akar yang menyembul ke permukaan. Penampakan mangrove seperti hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan laut.

Kata mangrove berasal dari kata mangue (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan, dengan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar. Sementara itu dalam literatur lain disebutkan bahwa istilah mangrove berasal dari kata mangi-mangi (bahasa Melayu Kuno).

Mangrove suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh disepanjang garis pantai tropis dan subtropis yang terlindung dan memiliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob. (Aduwina / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :