FPIK UTU dan WCS-IP Gelar Pelatihan Survey Ekologi Terumbu Karang dan Ikan Karang
  • UTU News
  • 13. 10. 2020
  • 0
  • 287

MEULABOH - UTU | Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar (FPIK UTU) didukung penuh WCS-IP menggelar pelatihan survey ekologi terumbu karang dan ikan karang. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA ini berlangsung di Hotel Lauser, Aceh Barat Daya, Selasa (13/10/20).

Turut hadir dalam acara pembukaan Pelatihan Survey Ekologi Terumbu Karang dan Ikan Karang ini adalah Wakil Rektor III UTU, Dr. Mursyidin, MA dan beberapa pejabat pemerintahan setempat.

Giat training ini sekaligus memberikan pembekalan untuk Tim Survey sebelum terjun ke lapangan melaksanakan monitoring ekologi terumbu karang dan ikan karang yang direncanakan akhir Oktober 2020. Kegiatan yang akan berlangsung 13-15 Oktober ini diikuti oleh 24 peserta yaitu terdiri dari unsur  BKSDA Aceh, FKP Unsyiah, PDC, DKP Aceh Singkil, WCS-IP dan FPIK UTU.

Rektor Prof Jasman dalam sambutannya mengapresiasi langkah FPIK-UTU dan mitra kerja dalam usaha menjaga terumbu karang dengan menggagas kegiatan pelatihan untuk tim yang akan melakukan survey lapangan terhadap terumbu karang dan ikan karang.

"Ini merupakan langkah yang bagus, memperbaiki kondisi dan kualitas terumbu karang di Indonesia khususnya di laut barat selatan Aceh, memerlukan keterlibatan berbagai pihak (stakeholders) dalam pengelolaan terumbu karang, sejak dari perencanaan hingga pemantauan dan evaluasi." Kata Prof Jasman

Semoga semua upaya ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi keberlangsungan ekologi terumbu karang dan bagi kehidupan masyarakat pesisir. Pelibatan masyarakat dalam usaha pemantauan perlu dilakukan.

"Pemantauan sebagai salah satu tahapan penting dalam pengelolaan yang berkelanjutan, untuk itu diperlukan keterlibatan aktif berbagai pihak, khususnya masyarakat yang berhubungan erat dengan sumberdaya terumbu karang, untuk memperoleh informasi yang absah tentang kondisi terumbu karang dan perkembangannya." Pungkas Prof Jasman.

Sementara itu, Dekan FPIK UTU, Prof. Dr. M. Ali Sarong, M.Si menjelaskan kondisi terumbu karang saat ini sangat mengkhawatirkan akibat degradasi dan kerusakan yang cukup parah. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk memperbaiki kondisi dan kualitas terumbu karang di Indonesia, salah satunya dengan melakukan survey ekologi terumbu karang.

Dijelaskannya, pada tahun 2017 lalu, telah teridentifikasi 9 kawasan konservasi perairan daerah di Provinsi Aceh, termasuk salah satu diantaranya adalah Taman Wisata Alam (TWA) Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil yang pengelolaannya berada dibawah otoritas Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh.

Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Kepulauan Banyak merupakan sebuah gugusan Pulau Kecil dan perairan,  terletak di Samudera Hindia bagian Barat Pulau Sumatera, Wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. TWA Pulau Banyak memiliki luas sekitar 255.585,39 hektar, dengan luas perairan mencapai 228.182,86 hektar (89,3% dari luas kawasan) dan luas daratan mencapai 27.402,53 hektar natau 10,7% dari luas kawasan serta memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. TWA Pulau Banyak memiliki potensi sumber daya laut dan keanekaragaman hayati yang tinggi, seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem lamun serta tempat bertelurnya penyu.

"Untuk mengelola potensi besar sumber daya pesisir dan laut di TWA Pulau Banyak ini, diperlukan upaya sistematis untuk mencapai efektivitas pengelolaannya. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan data terkini baik data ekologi maupun data sosial ekonomi sebagai basis evaluasi efektivitas pengelolaan Kawasan." Pungkas Prof. Ali Sarong. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :