FE UTU Gelar Seminar Nasional, Prof. Jasman Jadi Keynote Speaker
  • UTU News
  • 06. 11. 2018
  • 0
  • 120

MEULABOH – Jajaran Fakultas Ekonomi-Universitas Teuku Umar (FE-UTU) melaksanakan seminar nasional dengan menghadirkan lima narasumber, dan yang menjadi Keynote Speaker (pembicara utama) adalah Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA.

Ketua Program Studi Akuntansi FE UTU, Budianto, SE.,M.Si selaku panitia seminar mengatakan, seminar nasional yang bertema,Dampak Perang Dagang Amerika Serikat – RRC Terhadap Perekonomian Indonesia”, berlangung, 5 November 2018, di Aula Utama UTU. Kegiatan tersebut dirangkai dengan  Penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement) antara FE UTU dengan FE Unsyiah, Universitas Sumatra Utara-USU, UNIMED dan UNAND Padang.

“MoA ditandatangani masing-masing dekan disaksikan oleh Rektor UTU, Prof. Jasman. Isi MoA adalah kerjasama dalam Tridaharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat)”, ujar Budianto. Sementera yang menjadi nasasumber seminar nasional  adalah Prof. Dr. Ramli, SE, MS. (Dekan FEB USU), Prof. Indra Maipita, M.Si, Ph.D (Dekan FEB UNIMED), Dr. Harif Amali Rifai, SE, M.Si (Dekan FEB UNAND), Dr. Abdul Jamal, SE, M.Si (Wakil Dekan I FEB Unsyiah) dan Dr. Ishak Hasan, M.Si (Dekan FE UTU)

Prof. Jasman saat menjadi Keynote Speaker antara lain mengatakan, “perang dagang  menaikkan tarif impor dengan tujuan menghambat produk-produk negara lain masuk ke negara kita. Menaikkan tarif impor merupakan bentuk proteksi ekonomi untuk melindungi produk dalam negeri”. Menurut Prof. Jasman, Indonesia masih kurang dalam melakukan proteksi terhadap produk-produk dalam negeri. Dampak perang dagang Amerika Serikat– Republik Rakyat Cina (RRC) juga masih bisa dimanfaatkan oleh Indonesia dengan terbukanya peluang ekspor seperti baja, besi, aluminium ke Amerika.

Prof. Ramli mengatakan, jika masyarakat Indonesia ingin lepas dari Middle Income Trap maka harus kreatif dalam meningkatkan daya saingnya. Menurut Prof. Indra Maipita,  postur anggaran Indonesia hingga saat ini tetap mengalami defisit anggaran, untuk menutupi defisit tersebut maka diperlukan hutang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia kecenderungan hutangnya terus meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan. Efektifitas pengelolaan hutang juga sangat tergantung pada perilaku pemerintahnya, tergantung mau digunakan untuk tujuan apa hutang tersebut. 

Sementara Dr. Ishak Hasan menyebutkan, Sektor Koperasi dan UKM (KUKM) berkontribusi terhadap PDB Indonesia sebesar 56%. KUKM tidak boleh dipandang sebelah mata, kontribusi terhadap perekonomian Indonesia sangat besar dan menjadi penopang kemandirian rakyat. Tantangan KUKM di era saat ini, mereka harus bisa beradaptasi di tengah era digitalisasi ekonomi dan globalisasi.

Dr. Abdul Jamal menjelaskan, neraca perdagangan antara Indonesia dengan China maupun Amerika Serikat sangat rendah, justru Indonesia dengan India yang tinggi. Sehingga Indonesia memiliki peluang besar mengoptimalkan neraca perdagangan dengan India daripada China maupun Amerika. Demikian halnya, Dr. Harif Amali yang membahas bisnis di era ekonomi digital. Menurutnya,  era dahulu faktor produksi sangat ditentukan oleh land, labour, dan capital, namun di era digital economy skill  diperlukan pengetahuan yang bersifat creative imaginary dan kritis terhadap data dan informasi, dikarenakan struktur pasar saat ini telah berubah menjadi virtual market. (*/Zakir)

Lainnya :