Dosen UTU, Sudarman Alwy Pemateri Diskusi Ancaman Radikalisme di Aceh Selatan
  • UTU News
  • 09. 08. 2019
  • 0
  • 780

MEULABOH – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU), Sudarman Alwy, M. Ag diundang memberikan materi pada diskusi panel, “Pencegahan Ancaman Bahaya Radikalisme/Separatisme Ditinjau dari Sudut Pandang Sosial Politik di Wilayah Aceh". Diskusi panel itu, dilaksanakan, di Aula Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Selatan, Rabu 7 Agustus 2019

Kehadiran Sudarman Alwy yang juga Mantan Dekan FISIP-UTU, di Aceh Selatan menyampaikan materi pada diskusi panel itu, ditugaskan oleh Rektor berdasarkan permintaan Komandan Kodim 0107/Aceh Selatan Letkol Inf. R. Sulistiya Harlambang HB  atas surat perintah Danrem 012/TU Nomor Sprin 633/VI/ 2019 Tanggal 30 Juni 2019.

Kegiatan diskusi panel tersebut dihadiri  Bupati Aceh Selatan yang diwakilkan  Asisten Pemerintahan, Ketua Pengadilan Negeri (PN), Ketua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), pemuka agama, tokoh masyarakat, pegiat Ormas seperti FKPPI, PETA, KAHMI Aceh Selatan, siswa SMU dan sederajat, serta unsur masyarakat lainnya.

Kegiatan diskusi panel cegah tangkal tersebut dibuka oleh Komandan Kodim (Dandim) 0107 Aceh Selatan, diwakili Kapten. Inf. Kamsita S. Dalam sambutan-nya Dandim menyebutkan, kegiatan diskusi panel cegah tangkal radikalisme/separatism tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai ancaman dan bahaya radikalisme yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Pemateri pada diskusi panel selain Sudarman Alwy juga disampaikan  oleh Izhar, S.Ag (mewakili Kepala Kankamenag Aceh Selatan).   Dalam materinya, Sudarman Alwy antara lain menyebutkan,  setidaknya ada tiga  elemen utama yang dapat berperan dalam mencegah dan menangkal berkembangnya radikalisme, pertama;  pihak keluarga harus memberikan pemahaman dini mengenai bahaya dan ancaman radikalisme serta mengawasi setiap perubahan perilaku anggota keluarga secara komprehensif. Kedua;  aparatur gampong/desa harus mengawasi setiap organisasi yang berkembang dalam gampong, termasuk perilaku masyarakat pendatang. Ketiga;. pemerintah melalui kebijakan memasukkan pendidikan bahaya radikalisme dalam kurilulum sekolah sebagai muatan lokal (mulok) dan juga perlu melakukan sosialisasi secara rutin kepada masyarakat. (***)

Lainnya :