Dikti Luncurkan Gerakan Literasi Kampus Bagi Sivitas Akademika
  • UTU News
  • 11. 09. 2021
  • 0
  • 352

MEULABOH, UTU - Dalam upaya mendukung peran insan dikti dalam hal literasi kampus, Kedaireka Academy bersama Aksaramaya menyelenggarakan Webinar,” Peluncuran Gerakan Literasi Kampus”, Jumat, 10 September 2021, via zoom meeting.

Webinar peluncuran gerakan literasi kampus tersebut diikuti dosen Universitas Teuku Umar (UTU) dan insan Dikti secara nasional. “Peserta mendapatkan materi tentang gerakan literasi kampus, market ebook dan peluang menerbitkan buku”.

Narasumber : Prof. Nizam (Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi). Paristiyanti Nurwardani (Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), Epik Finilih (Mentor Pelatihan Buku Ajar Aksaramaya), Hery Nuryanto. Mahir Bayasut (Ketua Bidang Industri  Tim Kerja Akselerasi Kampus Merdeka), serta Host  adalah Vannya Quinta (Tim Kerja Akselerasi Kampus Merdeka)

Epik Finilih antara lain menjelaskan, penulis  adalah setiap orang yang menulis naskah yang  diterbitkan dalam bentuk buku. Dan pelaku pembukuan terdiri atas penulis, penerjemah, penyadur, editor, desainer, illustrator, pecetak, pengembang buku elektronik, penerbit dan toko buku.

Menurut Epik, seorang penulis sebaiknya tidak mengabaikan proses dalam berkarya. Perkara cepat atau lambat proses itu berjalan sangat tergantung pada tingkat kesulitan, kedalaman dan kepiawaiannya sang penulis. Kerananya, penulis tidak semestinya membanggakan kecepatan berkaya.

Dalam tanya jawab muncul pertanyaan dari peserta antara lain, “adakah jangka waktu atau periode minimal dan maksimal dalam menyelesaikan suatu karya tulis buku ajar dalam mengikuti pelatihan aksaramaya”, Epik menjawab, yang perlu dilakukan oleh seorang penulis adalah membuat deadline lebih dahulu, artinya kapan target waktu untuk menyelesaikannya, kemudian mengikuti kurikulum atau silabus. Pastikan kurikulum terbaru untuk digunakan karena silabus terbaru itu terus berkembang. Selanjutnya, lahirkan ide. Karena ide menulis buku ajar berbeda dengan ide menulis buku ilmiah popular. Ide menulis buku ilmiah popular bebas (liar). Sedangkan ide menulis buku ajar itu tentunya terkait dengan apa yang akan diajarkan di kampus. Kalau bahan sudah tersedian, langkah berikutnya adalah membuat kerangka tulis dan pemilihan gambar agar peserta didik tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Sementara itu, Hari Nuryanto menyampaikan, dunia pendidikan mengalami geger budaya karena perkembangan teknologi dan kondisi masyarakat pengguna peranti digital yang tidak lepas dari gadget, referensi selalu di google, rajin mengikuti informasi di media facebook, suka menyebarkan ide lewat twiter, kontemplasi di instagram, dan berguru pada youtube serta mencari hidayah dan berkah di dunia maya.

Hari Nuryanto menyebutkan, kondisi saat ini mahasiswa tumbuh secara digital dengan cara belajar yang instan dan dapat melakukan akses informasi dari sembarang sumber. Sementara doson terkadang tertinggal dalam keterampilan digital sehingga tidak lagi menjadi tokoh sentral dalam transfer of knowledge. “Ada lembaga pendidikan (universitas) yang masih tradisional, banyak aturan dan sistem masih konvensional sehingga terlambat melakukan shifting ke digital dan terdisrupsi oleh teknologi”, ujar Hari. (***)

 

Lainnya :